close

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 Juli 2012

Pengertian Pendidikan

Dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan sehingga banyak merubah pola pikir pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Menyikapi hal tersebut pakar-pakar pendidikan mengkritisi dengan cara mengungkapkan dan teori pendidikan yang sebenarnya untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.
Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.
Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.”

Baiklah langsung saja kita paparkan beberapa pengertian pendidikan menurut beberapa sumber.

Pada dasarnya pengertian pendidikan (Wikipedia) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Sedangkan pengertian pendidikan menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.

Demikian pengertian pendidikan, mudah-mudahan bermanfaat.

Sejarah Carok Madura

Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).

Pada zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris.  Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?

Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.

Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.

Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.

Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.

Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.

Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan  kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.

Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan (Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.

Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit. Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.

Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.

Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.(Posmo-Extramadura)

Sejarah Bangkalan

Bangkalan berasal dari kata “bangkah” dan ”la’an” yang artinya “mati sudah”. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Raja Majapahit yaitu Brawijaya ke V telah masuk Islam (data kekunoan di Makam Putri Cempa di Trowulan, Mojokerto). Namun demikian siapa sebenarnya yang dianggap Brawijaya ke V.

Didalam buku Madura en Zijin Vorstenhuis dimuat antara lain Stamboon van het Geslacht Tjakradiningrat.

Dari Stamboon tersebut tercatat bahwa Prabu Brawijaya ke V memerintah tahun 1468–1478. Dengan demikian, maka yang disebut dengan gelar Brawijaya ke V (Madura en Zijin Vorstenhuis hal 79) adalah Bhre  Krtabhumi dan mempunyai 2 (dua) orang anak dari dua istri selir. Dari yang bernama Endang Sasmito Wati melahirkan Ario Damar dan dari istri yang bernama Ratu Dworo Wati atau dikenal dengan sebutan Putri Cina  melahirkan Lembu Peteng. Selanjutnya Ario Damar (Adipati Palembang) mempunyai anak bernama Menak Senojo.

Menak Senojo tiba di Proppo Pamekasan dengan menaiki bulus putih dari Palembang kemudian meneruskan perjalannya ke Barat (Bangkalan). Saat dalam perjalanan di taman mandi Sara Sido di Sampang pada tengah malam Menak Senojo mendapati banyak bidadari mandi di taman itu, oleh Menak Senojo pakaian salah satu bidadari itu diambil yang mana bidadari itu tidak bisa kembali ke kayangan dan akhirnya jadi istri Menak Senojo.

Bidadari tersebut bernama Nyai Peri Tunjung Biru Bulan atau disebut juga Putri Tunjung Biru Sari. Menak Senojo dan Nyai Peri Tunjung Biru Bulan mempunyai anak Ario Timbul. Ario Timbul mempunyai anak Ario Kudut. Ario Kudut mempunyai anak Ario Pojok. Sedangkan di pihak Lembu Peteng yang bermula tinggal di Madegan Sampang kemudian pindah ke Ampel (Surabaya) sampai meninggal dan dimakamkan di Ampel, Lembu Peteng mempunyai anak bernama Ario Manger yang menggantikan ayahnya di Madegan Sampang. Ario Manger mempunyai anak Ario Pratikel yang semasa hidupnya tinggal di Gili Mandangin (Pulau Kambing). Dan Ario Pratikel mempunyai anak Nyai Ageng Budo.

Nyai Ageng Budo inilah yang kemudian kawin dengan Ario Pojok. Dengan demikian keturunan Lembu Peteng menjadi satu dengan keturunan Ario Damar. Dari perkawinan tersebut lahirlah Kiai Demang yang selanjutnya merupakan cikal bakal Kota Baru dan kemudian disebut Plakaran. Jadi Kiai Demang bertahta di Plakaran Arosbaya dan ibukotanya Kota Baru (Kota Anyar) yang terletak disebelah Timurdaya Arosbaya. Dari perkawinannya dengan Nyai Sumekar mempunyai 5 (lima) orang anak yaitu :

Kiai Adipati Pramono di Madegan Sampang.
Kiai Pratolo disebut juga Pangeran Parambusan.
Kiai Pratali atau disebut juga Pangeran Pesapen .
Pangeran Paningkan disebut juga dengan nama Pangeran Suka Sudo .
Kiai Pragalbo yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Plakaran karena bertahta di Plakaran, setelah meninggal dikenal sebagai Pangeran Islam Onggu'.

Namun perkembangan Bangkalan bukan berasal dari legenda ini, melainkan diawali dari sejarah perkembangan Islam di daerah itu pada masa pemerintahan Panembahan Pratanu yang bergelar Lemah Dhuwur.

Beliau adalah anak Raja Pragalba, pendiri kerajaan kecil yang berpusat di Arosbaya, sekitar 20 km dari kota Bangkalan ke arah utara. Panembahan Pratanu diangkat sebagai raja pada 24 Oktober 1531 setelah ayahnya, Raja Pragalba wafat. Jauh sebelum pengangkatan itu, ketika Pratanu masih dipersiapkan sebagai pangeran, dia bermimpi didatangi orang yang menganjurkan dia memeluk agama Islam. Mimpi ini diceritakan kepada ayahnya yang kemudian memerintahkan patih Empu Bageno untuk mempelajari Islam di Kudus.

Perintah ini dilaksanakan sebaik-baiknya, bahkan Bageno bersedia masuk Islam sesuai saran Sunan Kudus sebelum menjadi santrinya selama beberapa waktu lamanya. Ia kembali ke Arosbaya dengan ilmu keislamannya dan memperkenalkannya kepada Pangeran Pratanu.

Pangeran ini sempat marah setelah tahu Bageno masuk Islam mendahuluinya. Tapi setelah dijelaskan bahwa Sunan Kudus mewajibkannya masuk Islam sebelum mempelajari agama itu, Pangeran Pratanu menjadi maklum.

Setelah ia sendiri masuk Islam dan mempelajari agama itu dari Empu Bageno, ia kemudian menyebarkan agama itu ke seluruh warga Arosbaya. Namun ayahnya, Raja Pragalba, belum tertarik untuk masuk Islam sampai ia wafat dan digantikan oleh Pangeran Pratanu. Perkembangan Islam itulah yang dianut oleh pimpinan di Kabupaten Bangkalan ketika akan menentukan hari jadi kota Bangkalan, bukan perkembangan kekuasan kerajaan di daerah itu.

Jauh sebelum Pangeran Pratanu dan Empu Bageno menyebarkan Islam, sejumlah kerajaan kecil di Bangkalan.

Diawali dari Kerajaan Plakaran yang didirikan oleh Kyai Demang dari Sampang. Yang diperkirakan merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit yang sangat berpengaruh pada saat itu. Kyai Demang menikah dengan Nyi Sumekar, yang diantaranya melahirkan Raden Pragalba. Pragalba menikahi tiga wanita. Pratanu adalah anak Pragalba dari istri ketiga yang dipersiapkan sebagai putera mahkota dan kemudian dikenal sebagai raja Islam pertama di Madura. Pratanu menikah dengan putri dari Pajang yang memperoleh keturunan lima orang :

Pangeran Sidhing Gili yang memerintah di Sampang. Raden Koro yang bergelar Pangeran Tengah di Arosbaya, Raden Koro menggantikan ayahnya ketika Pratanu wafat. Pangeran Blega yang diberi kekuasaan di Blega. Ratu Mas di Pasuruan dan Ratu Ayu.

Kerajaan Arosbaya runtuh diserang oleh Mataram pada masa pemerintahan Pangeran Mas pada tahun 1624. Pada pertempuran ini Mataram kehilangan panglima perangnya, Tumenggung Demak, beberapa pejabat tinggi kerajaan dan sebanyak 6.000 prajurit gugur.

Korban yang besar ini terjadi pada pertempuran mendadak pada hari Minggu, 15 September 1624, yang merupakan perang besar. Laki-laki dan perempuan kemedan laga. Beberapa pejuang laki-laki sebenarnya masih bisa tertolong jiwanya. Namun ketika para wanita akan menolong mereka melihat luka laki-laki itu berada pada punggung, mereka justru malah membunuhnya.

Luka di punggung itu menandakan bahwa mereka melarikan diri, yang dianggap menyalahi jiwa ksatria. Saat keruntuhan kerajaan itu, Pangeran Mas melarikan diri ke Giri. Sedangkan Prasena (putera ketiga Pangeran Tengah) dibawa oleh Juru Kitting ke Mataram, yang kemudian diakui sebagai anak angkat oleh Sultan Agung dan dilantik menjadi penguasa seluruh Madura yang berkedudukan di Sampang dan bergelar Tjakraningrat I.

Keturunan Tjakraningrat inilah yang kemudian mengembangkan pemerintahan kerajaan baru di Madura, termasuk Bangkalan. Tjakraningrat I menikah dengan adik Sultan Agung. Selama pemerintahannya ia tidak banyak berada di Sampang, sebab ia diwajibkan melapor ke Mataram sekali setahun ditambah beberapa tugas lainnya. Sementara kekuasaan di Madura diserahkan kepada Sontomerto.

Dari perkawinannya dengan adik Sultan Agung, Tjakraningrat tidak mempunyai keturunan sampai istrinya wafat. Baru dari pernikahannya dengan Ratu Ibu ( Syarifah Ambani, keturunan Sunan Giri ), ia memperoleh tiga orang anak dan beberapa orang anak lainnya diperoleh dari selirnya (Tertera pada Silsilah yang ada di Asta Aer Mata Ibu.

Bangkalan berkembang mulai tahun 1891 sebagai pusat kerajaan dari seluruh kekuasaan di Madura, pada masa pemerintahan Pangeran Tjakraningrat II yang bergelar Sultan Bangkalan II. Raja ini banyak berjasa kepada Belanda dengan membantu mengembalikan kekuasaan Belanda di beberapa daerah di Nusantara bersama tentara Inggris.

Karena jasa-jasa Tjakraningrat II itu, Belanda memberikan izin kepadanya untuk mendirikan militer yang disebut ‘Corps Barisan’ dengan berbagai persenjataan resmi modern saat itu. Bisa dikatakan Bangkalan pada waktu itu merupakan gudang senjata, termasuk gudang bahan peledak.

Namun perkembangan kerajaan di Bangkalan justru mengkhawatirkan Belanda setelah kerajaan itu semakin kuat, meskipun kekuatan itu merupakan hasil pemberian Belanda atas jasa-jasa Tjakraningrat II membantu memadamkan pemberontakan di beberapa daerah. Belanda ingin menghapus kerajaan itu. Ketika Tjakraningrat II wafat, kemudian digantikan oleh Pangeran Adipati Setjoadiningrat IV yang bergelar Panembahan Tjokroningrat VIII, Belanda belum berhasil menghapus kerajaan itu. Baru setelah Panembahan Tjokroadiningrat wafat, sementara tidak ada putera mahkota yang menggantikannya, Belanda memiliki kesempatan menghapus kerajaan yang kekuasaannya meliputi wilayah Madura itu.

Raja Bangkalan Dari Tahun 1531 - 1882

Tahun 1531 - 1592 : Kiai Pratanu (Panembahan Lemah Duwur)
Tahun 1592 - 1620 : Raden Koro (Pangeran Tengah)
Tahun 1621 - 1624 : Pangeran Mas
Tahun 1624 - 1648 : Raden Prasmo (Pangeran Cakraningrat I)
Tahun 1648 - 1707 : Raden Undakan (Pangeran Cakraningrat II)
Tahun 1707 - 1718 : Raden Tumenggung Suroadiningrat
(Pangeran Cakraningrat III)
Tahun 1718 - 1745 : Pangeran Sidingkap (Pangeran Cakraningrat IV)
Tahun 1745 - 1770 : Pangeran Sidomukti (Pangeran Cakraningrat V)
Tahun 1770 - 1780 : Raden Tumenggung Mangkudiningrat
(Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VI)
Tahun 1780 - 1815 : Sultan Abdu/Sultan Bangkalan I
(Panembahan Adipati Pangeran Cakraadiningrat VII)
Tahun 1815 - 1847 : Sultan Abdul Kadirun (Sultan Bangkalan II)
Tahun 1847 - 1862 : Raden Yusuf (Panembahan Cakraadiningrat VII)
Tahun 1862 - 1882 : Raden Ismael (Panembahan Cakraadiningrat VIII)

FATWA KETUA UMUM SETIA HATI TERATE PUSAT MADIUN


Dalam Rangka Temu Kadang di Padepokan SH Terate, Minggu 8 April 2012
Assalamualaikum wr wb.Saudara-saudaraku Keluarga Besar Setia Hati Terate yang saya cintaiAlhamdulillah, malam hari ini kita bisa berkumpul di sini dalam jalinan persaudaraan yang dipenuhi rasa asah asih asuh. Persaudaraan yang tulus dengan didasari rasa saling sayang menyayangi, hormat menghormati dan bertanggung jawab. Persaudaraan yang tidak memandang siapa aku dan siapa kamu, tidak dilandasi hegemoni keduniawian, seperti drajat, pangkat dan martabat, juga bukan persaudaraan yang dibatasi suku, ras, agama dan antargolongan.Semua ini, semata-mata hanya karena berkah, rakhmat, hidayah dan ridlo Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, mari kita bersama-sama memanjatkan puji syukur. Sebab hanya karena ridlo-Nya itu pulalah, kita bisa berkumpul di sini, dalam kondisi sehat wal afiat, tak kurang suatu apa pun.Kedua, ucapan terimakasih selayaknya kita haturkan kepada perintis, pendiri dan tokoh SH Terate yang telah bersusah payah membimbing  dan mengenalkan kita pada ajaran budi luhur tahu benar dan salah, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana tujuan ajaran SH Terate.Saudara-saudaraku Keluarga Besar Setia Hati Terate yang saya cintaiMenghadapi situasi dan kondisi yang berlangsung sekarang ini. Saya selaku Ketua Umum Setia Hati Terate mengingatkan kepada saudara sekalian, untuk tidak keluar dari alur ajaran Setia Hati Terate. Yakni, ajaran budi luhur yang berangkat dari hati yang bersih, tulus dan jujur. Dan dengan kejujuran, ketulusan dan keikhlasan hati itu pula mari kita bersama-sama membangun persaudaran di tengah-tengah kehidupan umat manusia, khususnya Keluarga Besar Setia Hati Terate.Berangkat dari misi suci mengemban amanat budi luhur itu pula, sebagai Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, saya sudah mengambil kebijakan, baik kebijakan khusus yang diberlakukan untuk intern Setia Hati Terate, maupun mengembangkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan di luar  Setia Hati Terate.Kebijakan intern di tubuh Setia Hati Terate, saudara bisa lihat dengan mata kepala sendiri, terutama pada program penyiapan sarana dan prasarana phisik (tata lahir). Alhamdulillah sepanjang jadi Ketua Umum Setia Hati Terate, saya sudah mewujudkan mimpi yang sudah lama saya gadhang-gdahang. Yakni membangun Padepokan lengkap dengan sarana dan prasarana pendukungnya.Dan bangunan phisik Padepokan Agung Setia Hati Terate, alhamdulillah sudah terwujud dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bahkan di balik bangunan yang bisa saudara lihat ini, sesungguhnya saya selipkan ajaran perjalanan hidup manusia seutuhnya. Yakni konsep filosofi perjalanan hidup manusia yang terformat dalam tata lahir dan tata batin.Mengacu pada pola konsentris dan tata ruang, Padepokan Agung SH Terate dibangun di atas tanah seluas 13.700 m2, berlokasi di Jl. Merak Nambangan Kidul, Kota Madiun. Jika ditempuh dari Alun-Alun Kota Madiun, berjarak sekitar 3 Km, arah selatan, melewati Jl. Agus Salim dan Jl. Trunojoyo terus belok ke kanan masuk ke Jl. Merak. Titik pusat lokasi padepokan, berjarak sekitar 500 meter dari gerbang masuk pertigaan Jl. Merak – Jl.Trunojoyo.Padepokan Agung SH Terate mulai dibangun tahun 1997, dan terus berlanjut hampir selama 14 tahun. Saya sebagai  Ketua Umum SH Terate sebenarnya sudah lama berniat mewujudkan gagasan pembangunan padepokan ini. Pola konsentris dan tata ruang Padepokan Agung ini, juga saya renungkan selama belasan tahun.Pola konsentris  dan tata ruang Padepokan Agung SH Terate terbagi menjadi empat komplek atau empat lapis.1.Komplek Pertama : Sasana Krida Wiratama.2.Komplek Kedua : Halaman dan Taman (Sasana Enggar Ati).3.Komplek Ketiga : Pendopo Padepokan Agung SH Terate4.Komplek Keempat : GOR atau gedung serba gunaMakna filosofi kontruksi empat komplek atau empat lapis kontruksi ini, melambangkan cikal bakal manusia. Yakni, manusia dibuat dari empat unsur alam. Bumi, udara, air, dan unsur api.Saudara-saudaraku Keluarga Besar Setia Hati Terate yang saya cintaiFilosofi Padepokan Agung SH TerateLapis pertama kontruksi Padepokan Agung SH Terate adalah Komplek Sasana Krida Wiratama. Lapis pertama ini terdiri dari dua buah pintu gerbang (Gapura Kembar), arena parkir kendaraan dan Sasana Krida Wiratama.Gapura Kembar sebagai pintu gerbang masuk Padepokan merupakan lambang hukum keseimbangan alam, yang selalu terdiri dari dua sisi. Misalnya, ada siang ada malam, ada gelap ada terang, ada kaya ada miskin, ada sedih ada bahagia.Pusat kontruksi di lapis pertama ini, adalah Sasana Krida Wiratama. Bangunan ini berbentuk arena tanding yang di salah satu sisinya (sebelah selatan) terdapat undagan berfungsi sebagai tempat duduk. Di sisi barat dan timur terdapat tugu sakembaran, sebagai pintu gerbang masuk arena. Sementara di sebelah utara terdapat undag sitinggil atau panggung bersusun beratap bangunan berarsitektur Joglo.Sasana Krida Wiratama berfungsi sebagai arena tanding pendekar SH Terate. Atau arena gladi (wahana evaluasi) ketangkasan olah jurus (pebo), setelah pendekar SH Terate belajar pencak silat selama tenggang waktu yang telah ditentukan. Arena ini difungsikan untuk menggelar pertandingan pencak silat antar pendekar SH Terate (SH Terate Cup). Di arena ini pula digelar even paling bergengsi SH Terate, bertajuk Adu Bebas Profesional memperebutkan Sabuk Emas SH Terate.Pada saat digelar pertandingan pencak silat, tepat di tengah-tengah arena didirikan panggung gladi tanding, berbentuk ring segi enam. Ketinggian panggung, sekitar setengah meter dari lantai.Awalnya, di lokasi arena tanding dibangun parit berbentuk segi empat, mengelilingi pusat arena. Parit itu berfungsi sebagai standardisasi  penentu kalah menang dalam even Adu Bebas. Bagi pendekar yang tercecar lawan dan jatuh terjebur parit berisi air, maka dia dinyatakan kalah. Namun, karena pertimbangan faktor keselamatan dan keamanan pesilat yang berlaga, parit itu akhirnya ditutup dan sekarang kontruksi pusat arena tanding dibuat datar.Sejak dibangun, ratusan pendekar SH Terate telah menunjukkan ketangkasannya dalam olah kanugaran di tempat ini. Krida Wiratama juga telah melahirkan puluhan pesilat pilih tanding yang berhasil meraih prestasi di pertandingan pencak silat di luar even SH Terate. Misalnya, menjuarai even pencak silat tingkat regional, nasional maupun internasional.Sedangkan, undag panggung beratap Joglo, difungsikan untuk menggelar acara pertunjukkan bernuansa seni dan hiburan. Misalnya permainan tunggal, permainan ganda maupun jurus beregu.Di panggung itu pula setiap tahun, SH Terate menggelar pertunjukkan wayang kulit untuk memeriahkan acara tasyakuran warga baru. Pagelaran wayang kulit dengan mengundang dalang ternama ini diproyeksikan untuk melestarikan budaya peninggalan leluhur, disamping memberikan hiburan berisi tontonan sekaligus tuntunan bagi masyarakat luas.Sementara, sebagai pendukung Sasana Krida Wiratama di sisi kanan panggung, terdapat ruang ganti, di sisi kiri dibangun ruang sekretariat. Mengapit arena tanding kiri dan kanan, ada halaman kosong cukup luas, difungsikan sebagai arena parkir kendaraan.Makna filosofi Padepokan Agung Setia Hati Terate ini sekarang sedang saya coba bukukan. Semoga dalam waktu dekat bisa dicetak dan bisa saudara baca dan pelajari.Selain itu, Setia Hati Terate juga sudah menyiapkan prasarana lain berupa penginapan atau hotel. Selain untuk Keluarga Besar Setia Hati Terate, penginapan itu juga diperuntukkan untuk umum. Kemudian, jika saudara lapar, Setia Hati Terate telah membuka Depot SH Terate. Untuk mensejahtarakan anggota, kita dirikan Koperasi Terate Manunggal.Tak berhenti sampai di situ, mendukung program wajib belajar, demi ikut mencerdaskan bangsa, Setia Hati Terate juga mendirikan lembaga pendidikan formal berupa SMA Kusuma Terate. Sedangkan, untuk melengkapi keberadaan kita sebagai mahluk Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Setia Hati Terate membangun sebuah Masjid Umar Al Faroq, berlokasi di samping Padepokan Agung Setia Hati Terate ini.Insya Allah, dalam waktu dekat kami akan membangun Pusat Pendidikan dan pelatihan Pecak Silat Setia Hati Terate. Lahannya seluas 1 hektare  sudah tersedia, di depan agak kesamping barat Padepokan Setia Hati Terate.Di bidang kesehatan warga, Setia Hati Terate Pusat Madiun akan membangun klinik SH Terate. Kemudian, karena kita sadar bahwa manusia hidup itu pasti akan mati, karena kita sadar bahwa kematian itu hukumnya wajib bagi makhluk hidup, saya sudah mulai menyiapkan sarana dan prasarana untuk sangune pati. Baik untuk intern Keluarga Besar SH Terate maupun untuk masyarakat.Untuk intern Keluarga Besar Setia Hati Terate, saya sudah siapkan lahan khusus yang dimanfaatkan  untuk makam. Sedangkan untuk masyarakat, sejalan dengan dharma kemanusiaan, Setia Hati Terate telah menyiapkan armada (mobil) ambulan dan mobil jenazah. Armada ini diperuntukkan masyarakat umum. Siapa saja bisa meminjam dan memakainya tanpa dipungut biaya alias gratis.Semua kebijakan yang telah kami lahirkan dan jalankan ini, pada prinsipnya mengacu pada proses perjalanan hidup manusia. Yakni, manusia yang tidak hanya berfikir terus menerus mencari pemenuhan kehidupan ragawi (sangune urip), tapi juga sadar untuk berfikir sangune pati.Saudara-saudaraku Keluarga Besar Setia Hati Terate yang saya banggakan Mempertahankan martabat dan harga diri dalam hidup ini memang harus kita perjuangkan. Tapi dalam mempertahankan harga diri dan martabat ini, kita juga harus berfikir kepentingan orang lain. Karena di samping kita masih banyak orang lain yang memiliki kepentingan sama dengan kita.Dari dulu Setia Hati Terate maunya disanjung dan dihargai. Nah, sekarang sudah saatnya kita menyanjung dan menghargai orang lain. Mari kita bersama-sama berlomba untuk menyenangkan orang lain. Membahagiakan sesama. Gawe seneng marang sakpadha-padhane tumitah. Sebab, sopo kang bisa gawe seneng marang wong liyo, mangko wong itu bakal disenengi Gustine. Pelajaran ini sudah saya pasang di Padepokan Setia Hati Terate. Bunyinya, “Ojo Sok Gawe Ala Ing Liyan, Apa Alane Gawe Seneng Ing Liyan.”Saudara-saudaraku Keluarga Besar Setia Hati Terate yang saya cintaiMari kita jadikan malam temu kadang ini sebagai wahana evaluasi diri. Bersama-sama, mari kita akhiri hal-hal yang negativ dan kita tatap masa depan dengan penuh optimisme.Sebab, tugas kita mengemban amanat budi luhur terbentang di depan mata. Jika diibaratkan sebagai pelagan dharma atau perjuangan memperkokoh eksistensi kemanusiaan, yakinlah, tantangan itu terbentang di depan mata. Baik tantangan yang berwujud pergeseran nilai sebagai dampak era transformasi, maupun tantangan yang lahir dari diri kita sendiri sebagai titah sakwantah (makhluk universal).Saya perlu mengingatkan kepada saudara saudaraku, segala bentuk tantangan dan rintangan itu pada hakikatnya bukan berada di luar diri kita. Tapi ada di dalam diri kita sendiri. Sebab, musuh terbesar umat manusia adalah dirinya sendiri. Hawa nafsunya sendiri. Dalam priambole SH Terate dikatakan “…dalam pada itu SETIA HATI sadar dan yakin bahwa sebab utama dari segala rintangan dan malapetaka serta lawan kebenaran hidup yang sesungguhnya bulanlah insan, makhluk atau kekuatan yang di luar dirinya.”Pada sambutan saya di pengseahan warga baru bulan Muharram kemarin, saya mengajak saudaraku di manapun berada, mari kita jadikan tanggal 1 Suro atau 1 Muharram sebagai Hari Kelahiran SH Terate. Tujuannnya, agar Keluarga Besar SH Terate selalu ingat bahwa bulan Suro atau Muharam itu “bulan tirakat”, bulan “mesu budi”, kemudian, hari-harinya selalu disibukkan dengan berdoa, mesu budi dan mendekat kepada Allah, sehingga Allah, Tuhan Yang Maha Esa mengangkat derajat kita ke derajat tertinggi. Kedua, agar SH Terate ikut didoakan masyarakat banyak yang pada malam 1 Suro melakukan tirakatan, sehingga SH Terate akan tetap jaya, kekal abadi selama-lamanya. Sebab, kita yakin, kekuatan dan kesaktian tertinggi manusia tidak ada lain kecuali doa.Perlu saya tegaskan, Setia Hati Terate ini dirintis oleh tokoh perjuang Perintis Kemerdekaan. Yakni Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Semula, bernama Setia Hati Seport Club. Kemudian tahun 1942 berubah jadi SH Terate. Dan masuk tahun 1948 berubah jadi organisasi Setia Hati Terate, dengan nama Persaudaraan Setia Hati Terate.Meski Setia Hati Terate ini sempat berubah-ubah nama, namun pelajaran yang diajarkan kepada warganya sama. Bersumber pada ajaran Setia Hati (SH). Karena Ki Hadjar Hardjo Oetomo memang murid dari Ki Ageng Soera Diwirjo (pendiri SH). Artinya, pelajaran jurusnya dari dulu sama. Tidak pernah berubah.Masuk tahun 1956, muncul tokoh Setia Hati Terate, bernama Pak Irsyad. Beliau adalah pendekar Setia Hati Terate yang menguasai teknik bela diri. Pada saat Pak Irsyad menjadi Ketua Setia Hati Terate inilah tercipta senam dari senam I (satu) hingga 90 (embilan puluh). Kemudian, ada penyempurnaan efektifitas garakan dalam jurus. Misalnya, pukulan mbandul dirubah jadi swing. Tapi perubahan ini tidak bergeser dari gerakan dasar jurus yang asli. Gerakan jurusnya dari dulu sampai sekarang masih tetap sama.Penggalian afektivitas gerak dalam jurus Setia Hati Terate ini, dipertahankan saat siswa Pak Isyad, yakni alm, Mas Imam Koesoepangat mulai tampil memimpin Setia Hati Terate. Saya sendiri merupakan siswa pertama dari Mas Imam. Jadi saya tahu persis. Dan, sejak Pak Irsyad menyempurnakan gerakan, mencipta senam, dari dulu tidak ada warga yang mempersoalkan. Karena mereka paham, secara prinsip gerakannya sama.Tapi belakangan ini, saya tidak habis fikir, di kalangan kadang Setia Hati Terate sendiri mulai muncul friksi yang mempersoalkan antara jurus lama dan jurus baru. Saya tegaskan, tidak ada istilah jurus lama dan jurus baru di Setia Hati Terate. Tidak ada istilah perubagan jurus di Setia Hati Terate. Dari dulu pelajaran jurus Setia Hati Terate, sama.Saya tidak ingin friksi ini terus berkembang. Mari kita sudahi sampai di sini. Saya tidak ingin kadang Setia Hati Terate ngelek-ngelek Setia Hati Terate. Saya ingin kadang Setia Hati Terate guyub rukun.Yang patut dicatat pula, pada tahun 1963, Setia Hati Terate berhasil menciptakan Mars SH Terate. Lagu itu diciptakan oleh Mas Imam dan aransmennya diciptakan oleh Adi Yasco. Mars SH Terate ini pertama kalai dikumandangkan dalam acara Pagelaran Keseniah Setia Hati Terate di Gedung Basuki, Jalan Sulawesi Madiun.Terakhir, didikan Setia Hati Terate sebenarnya membangun jiwa patriot. Membangun jiwa pemimpin. Setia Hati Terate mendidik warganya untuk jadi pemimpin yang memegang teguh ajaran Hasta Brata. Rela memberi makan warga yang kelaparan, melindungi dan membuat ketentraman di masyarakat dan setiap saat berani tampil ke depan untuk menbela kebenaran.Karena itu, saudara saudaraku Keluarga Besar Setia Hati Terate yang saya cintai, sudah saatnya sekarang ini warga Setia Hati Terate berani tampil ke depan menjadi pemimpin masyarakat. Konsekuensi dari niat luhur ini, saya perlu hibau dan sarankan, jika ada saudara kita Keluarga Besar Setia Hati Terate yang macung (maju ikut jadi kontestan) dalam pemilihan kepala desa (Pilkades), Pemilihan Kepada Daerah (Pilbup atau Pilwalkot), Pemilihan Gubernur, hingga macung dalam Pemilihan Presiden RI, tidak ada kata lain, kecuali mari kita dukung dan pilih bersama-sama.Pernyataan ini perlu saya kumandangkan dengan satu tujuan menjaga keutuhan Keluarga Besar Setia Hati Terate. Soal kalah menang, yakinlah itu urusan Allah SWT. Ibaratnya, martabat kita tetap akan terjaga dan diperhitungkan jika kita bersatu baik menang atau kalah. Sebaliknya, kita tak lagi diperhitungkan jika bercerai berai. Apalagi, pilihan kita kalah.Sejalan itu, bagi saudara-saudaraku Keluarga Besar Setia Hati Terate, yang karena suatu alasan tertentu punya pilihan berbeda, tolong besikaplah diam dan jangan tunjukkan kalau saudara berseberangan dengan saudara-saudara yang lain.Akhirnya, sebelum mengakhiri fatwa saya, mari kita bersama-sama bersemboyan.SELAMA MATAHARI MASIH BERSINAR, SELAMA BUMI MASIH DIHUNI MANUSIA,SELAMA ITU PULA SH TERATE,  TETAP JAYA, KEKAL ABADI, SELAMA-LAMANYA.Wassalamualaikum  Wr  WbKetua Umum SH Terate Pusat MadiunH. TARMADJI BOEDI HARSONO,S.E
sumber : www.lawupos.net